Komet dan Kiamat 2012

Pahami Komet, Bantah Kiamat 2012

Andai filsuf legendaris Aristoteles masih hidup, tentu akan menghubungkan letusan mikroskofik Merapi 2010 dengan kemunculan Komet Hartley 2. Tatkala Merapi meletus pada tanggal 26 Oktober 2010, bintang berekor ini sedang melintas sejauh 18 juta km dari bumi dan mempunyai kecerlangan +4,6 sehingga bisa dilihat mata manusia tanpa alat bantu, khususnya kala langit cerah dalam lingkungan gelap. Tak pelak, Hartley 2 menjadi Komet paling cemerlang tahun 2010.

Seminggu kemudian kala keganasan letusan Merapi mencapai puncak, 3 – 5 November 2010, para astronom berkesempatan mencermati komet berdiameter 2,5 km itu lebih teliti melalui wahana antariksa Deep Impact dalam misi Extrasolar Planet Observation and Deep Impact Extended Mission ( Epoxi ) yang berhasil mendekat hingga sejauh 700km.

Kesesuaian waktu tidak lantas membuktikan letusan Merapi 2010 dipicu kemunculan Komet Hartley 2. Hartley 2 adalah komet periodik dengan periode 6,5 tahun, sehingga kemunculannya sudah diestimasikan jauh hari, bahkan sejak ditemukan tahun 1986.

Statistik memperlihatkan sebuah komet baru ditemukan setiap dua hari. Padahal, bencana berselang beberapa minggu atau bulan dari bencana sebelumnya sehingga tak ada kesesuaian waktu antara keduanya. Secara fisispun tak ada mekanisme yang menghubungkan kehadiran komet dan dinamika permukaan bumi, mengingat masa dan dimensinya amat kecil dibandingkan dengan bumi. Sebaliknya, yang sering terjadi, gravitasi bumi ( dan planet-planet lain , khususnya Jupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus ) membuat sebuah komet terlempar dari lintasan semula dan menyusuri orbit baru yang berbeda.

Misi Epoxi menambah pengetahuan manusia tentang komet. Komet kini diketahui sebagai benda langit minor berdiameter 0,1 – 20 km ( kecuali komet Hale-Bopp yang berdiameter 40km ), tersusun dari debu – debu yang ringan yang membentuk gumpalan besar ireguler dengan densitas lebih kecil daripada air. Komet mempunyai permukaan aktif yang disebabkan oleh sublimasi es di kerak komet menjadi uap air kala mendekati matahari sehingga mendorong gas dan debu ke angkasa membentuk atmosfer komet ( coma ) yang selanjutnya menjadi ekor komet setelah tertiup angin matahari. Komet dan memiliki orbit sangat lonjong dibandingkan dengan planet, sehingga menghabiskan sebagian besar waktunya melata di kedalaman tata surya yang dingin membekukan.

Karena itulah komet hanya tampak pada waktu tertentu, khususnya kala mendekati matahari. Jika komet Hartley 2 tampak setiap enam setengah tahun sekali, Halley yang legendaris baru nongol setiap 76 tahun sekali. Komet Ikeya-Seki, yang muncul pada saat huru-hara berdarah tahun 1965 – 1966, bahkan lebih lama lagi karena hadir setiap 880 tahun sekali.

Keunikan orbit komet, khususnya kelonjongannya dan kemiringannya dibandingkan dengan planet, membuat stabilitas komet amat rentan. Sebuah komet hanya mampu bertahan 10 – 100 juta tahun di tata surya seiring terus bekerjanya gangguan gravitasi yang membuat orbitnya terus – menerus berubah, sebelum akhirnya lenyap. Kelenyapan komet mengikuti satu dari tiga kemungkinan, yakni bertabrakan dengan sesamanya, menumbuk planet atau satelitnya atau terlempar dari tata surya. Bandingkan dengan planet berorbit stabil sehingga mampu bertahan di tata surya hingga miliaran tahun.

Karakteristik komet menarik diperbincangkan seiring dengan kemerebakan isu kiamat 2012 diruang publik, entah lewat buku, televisi, film atau media lain. Disebutkan, kiamat terjadi kala bumi bertabrakan dengan “planet” Nibiru, Jum`at, 21 desember 2012 pukul 18:11 WIB, dengan titik tabrak di Antartika.

Nibiru dikatakan terlihat kali terakhir pada masa Babilonia 3.600 tahun silam dan memiliki permukaan sangat gelap, sehingga sangat sulit dilihat mata manusia. Nibiru disebut telah terdeteksi satelit IRAS milik NASA lewat spektrum sinar inframerah tahun 1983 sebagai objek sebesar Saturnus. Namun, entah karena alasan apa, NASA merahasiakan penemuan itu.

Tabrakan antara Nibiru dan bumi akan menciptakan petaka luar biasa yang menerjang seluruh permukaan bumi dengan kedahsyatan sebanding peristiwa kemusnahan Dinosaurus. Tak satupun lokasi di bumi bakal selamat, kecuali dua pojokan kecil di AS dan Prancis.

Ide kiamat itu pertama kali di ungkap Nancy Lieder, wanita eksentrik AS, yang mengklaim bisa berkomunikasi dengan makhluk asing luar bumi. Ide itu muncul ketika Hale-Bopp tampak tahun 1977. Saat itu Lieder menyatakan komet tersebut sejatinya hanya pengalihan cerdas dari NASA dan organisasi astronomi tentang “fakta” makin mendekatnya Nibiru ke bumi. Tabrakan diramalkan terjadi bersamaan dengan komet Hale-Bopp mencapai perihelionnya pada 1 April 1997.

Ramalan itu menjadi salah satu faktor yang mendasari 37 anggota sekte sesat Heavenis Gate bunuh diri massal. Mereka yakin komet itu adalah kendaraan luar bumi pengangkut jiwa mereka. Ketika kiamat tak terjadi dan justru Hale-Bopp dikenang sebagai komet terindah abad ke-20, Lieder segera mengajukan tanggal baru : 27 Mei 2003. Tatkala tanggal itu terlewati tanpa kiamat, Eric Julien ( salah satu penyokong Lieder ) buru-buru mengajukan tempat dan tanggal baru, yakni 25 Mei 2006 di Samudera Pasifik. Ketika tanggal itupun berlalu , Lieder menyatakan ramalan 2003 dan 2006 sebenarnya kebohongan yang diutarakan agar publik punya cukup waktu untuk bersiap menghadapi kiamat sebenarnya, yakni tahun 2012.

Tanggal yang selalu meleset dengan argumentasi ngawur sebagai justifikasi menegaskan, kebenaran isu kiamat 2012 tidak bisa dipegang. Namun benarkah Nibiru eksis dan sedang menuju ke bumi? Dari perspektif astronomi, simulasi dengan software Starry Night memperlihatkan dengan asumsi Nibiru akan menghantam Antartika dari altitude 45 derajat pada kecepatan 43 km/detik, muncul setiap 3.600 tahun sekali dan merupakan benda tergelap di tata surya ( yang hanya memantulkan 3% cahaya matahari ), orbitnya memiliki perihelion 133,5 juta km, aphelion 70,35 miliar km ( 12 kali lipat jarak matahari-pluto ), kelonjongan 0,996 ( sangat lonjong hingga menyerupai parabola ), inklinasi 66,5 derajat dan kecerlangan absolut   -6,28 . Itu sangat mirip orbit komet periodik dengan periode 3.600 tahun. Dan, Februari 2011 ini seharusnya Nibiru sudah berjarak 1.187 miliar km dari matahari dengan kedudukan diantara orbit Jupiter dan Saturnus.

Pengamat di Jawa Tengah seharusnya sudah melihatnya sebagai bintik cahaya di langit selatan yang muncul antara pukul 08:00 dan 22:00 WIB, dengan deklinasi -57 derajat 14` RA 1 jam 37,7 menit ( ephemeris J2000,00 ) dan kecerlangan +5, berdekatan dengan galaksi Awan Magellan Kecil ( NGC 292 ). Layaknya Hartley 2, objek seperti Nibiru seharusnya mudah diidentifikasi, mengingat kecerlangannya hampir sama. Starry Night memperlihatkan objek itu bahkan berbentuk seperti komet, komplit dengan ekor, sehingga identifikasinya lebih mudah.

Sesungguhnya beragam observasi yang dilakukan tim astronomi, tak memperlihatkan eksistensi benda langit dengan ciri sebagaimana Nibiru. Bahkan dengan tehnik astrofotografi sekalipun, yang secara teoritis memungkinkan identifikasi Nibiru dalam layar kamera, meski observasi dilakukan dilingkungan perkotaan yang relatif terpolusi cahaya. Apalagi peluang observasi berbasis teleskop lebih besar, terlebih estimasi koordinat langitnya ( deklinasi dan RA ) sudah diketahui.

Kenyataannya, tak satupun yang berhasil mengidentifikasi Nibiru, baik yang bekerja secara manual maupun mengandalkan sistem pelacakan otomatis seperti LINEAR, NEAT, LONEOS, Spacewatch, Catalina Sky Survey dan Siding Sping Survey. Dengan kemampuan teleskop – teleskop masa kini yang dengan mudah sanggup menyasar benda redup hingga magnitude +20, Nibiru seharusnya sudah hadir dalam citra fotografis sejak 1980.

Realitas bahwa hingga saat ini tidak ada yang terdeteksi, menunjukkan bahwa sebenarnya Nibiru tidak eksis. Argumen Nibiru amatlah redup sehingga amat sulit dideteksi tidak bisa diterima, mengingat simulasi tersebut bahkan mengidentikkan Nibiru dengan objek paling redup di tata surya.

Kesimpulan itu diperkuat hasil survey penyigian langit berskala besar dari satelit COBE dan WMAP ( Spektrum gelombang mikro ), IRAS ( Spektrum sinar inframerah ) serta Compton GRO ( Spektrum sinar gamma ). Juga dengan penyigian teleskop pada spektrum cahaya tampak dalam Sloan Digital Sky Survey. Semua tidak menemukan Nibiru. Khusus IRAS, awalnya memang teridentifikasi 10 objek misterius seukuran Saturnus yang berdekatan kawasan tata surya. Informasi menimbulkan kehebohan besar. Namun penyelidikan lebih lanjut mengungkap objek itu adalah 10 galaksi berbeda yang sangat jauh dari galaksi kita ( Bima Sakti ) dan mempunyai luminositas inframerah sedemikian tinggi sehingga bisa terekam satelit IRAS.

Ketidakeksisan Nibiru kian nyata ketika hukum gravitasi diperhitungkan. Masuknya Nibiru ke tata surya akan berimplikasi terhadap perubahan orbit planet luar beserta satelitnya dan komet seperti diteorikan john Adams dan Urbain LeVerrier. Padahal, realitasnya tidak demikian. Observasi-observasi via teleskop menegaskan orbit benda-benda langit itu tak berubah. Pun dengan data yang dikirim wahana antariksa Cassini yang saat ini masih bekerja di Saturnus dan New Horizon yang sedang dalam perjalanan menuju Pluto. Dengan orbit hampir mirip parabola, interaksi gravitasi Nibiru dan planet-planet besar membuat posisi Nibiru sangat kritis ketika berada di perihelionnya. Sebab, tanpa gangguan-gangguan planet-planet besar itu pun kecepatan Nibiru di perihelionnya hanya 0,1% lebih kecil dari kecepatan lepasnya, yakni batas kecepatan yang bila dilampaui Nibiru akan membuatnya terlempar keluar dari tata surya. Padahal, kombinasi gravitasi planet-planet besar mampu membuat Nibiru melampaui kecepatan lepasnya dengan mudah. Konsekuensinya, objek seperti Nibiru, jika memang ada, seharusnya sudah lenyap terlempar keluar dari lingkungan tata surya sejak bermiliar tahun silam.

Semua itu menunjukkan Nibiru tidaklah eksis, sehingga tak berdampak terhadap bumi, apalagi pada tahun 2012. Dalam perspektif astronomi, kiamat 2012 tidak memiliki bukti kuat dan semata-mata ditopang justifikasi sembrono yang berada di luar ilmu pengetahuan.

© Koplak WH Document : Suara Merdeka, Senin 14 Februari 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s