Biru

Biru : 5

 

Jiwanya adalah sumber nyala api yang berkobar

Aku Cuma bara yang takjub lalu tumbuh menjadi api

Pelitanya menyala terang membakar aku sang laron

Anggurnya meluap memenuhi cawanku

 

Bumi telah mengubah tanahku jadi emas

abuku dihiasinya dengan keindahan

dibawanya kembali butir pasirku ke gurun

agar memperoleh sinar cerlang sang matahari

 

Kini aku gelombang,…

dalam lautnya aku akan bersemayam

agar mutiara itu jadi milikku

bagai anggur lagunya

akupun mabuk kepayang

akan ku ambil hidup dari hikmah kata-katanya.

 

 

Agustus `98

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Biru : 6

 

Jadikanlah tawamu sumber ratusan keluh yang sendu

bentuk kalbu insani dengan air matamu!

berapa lama lagi akan membisu bagai putik kembang layu?

 

Sebarkan semarak wangimu bagai kuntum kembang mawar!

jika lidahmu terbelenggu

kau akan merana

lontarkan dirimu ke api

seperti damar!

dan dari setiap anggota tubuhmu jelmakan pribadimu

 

Agustus `98

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bunyi

Sejarah Piala Interkotinental

Sejarah Piala Interkontinental

Berawal dari Piala Rio

 

Sepakbola dunia mesti berterima kasih kepada Henri Delaunay. Selain mencetuskan ide pelaksanaan Piala Eropa, pria asal Prancis ini juga memunculkan gagasan digelarnya kejuaraan dunia antarklub.

Kejuaraan dunia antarklub pertama kali digelar pada tahun 1951 di Rio de Janeiro Brasil. Kejuaraan diikuti klub-klub dari Amerika Selatan dan Eropa. FIFA turun tangan setelah Presiden Jules Rimet meminta wakilnya untuk mengawasi kejuaraan yang dinamai Taca ( Piala ) Rio itu. Namun, beberapa waktu lalu FIFA tidak mengakui ajang yang dimenangi Palmeiras itu sebagai kejuaraan dunia resmi. Delaunay memunculkan ide kejuaraan dunia untuk menentukan siapa klub terbaik diantara kampiun Eropa dan Amerika Selatan. Piala Interkontinental akhirnya terwujud setelah konfederasi sepakbola Amerika Selatan menggelar kejuaraan antarklub untuk wilayah mereka yang dinamai Copa Libertadores pada tahun 1960.

Piala Interkontinental pertama pada tahun 1960 mempertemukan Real Madrid      ( Spanyol ) dan Penarol ( Uruguay ). Pertandingan memakai system kandang-tandang. Sistem itu dipakai hingga 1979. Pada tahun 1960 hingga 1968, jumlah poin menjadi penentu siapa juara. Karena format itu, pertandingan ke tiga mesti digelar jika kedua tim sama-sama mendapat tiga poin dari dua laga. Pada tahun 1969 hingga 1979, ajang ini memakai system standar di Eropa, yakni skor agregat dengan nilai lebih untuk gol tandang.

Para pemain dari klub Amerika Selatan selalu menganggap Piala Interkontinental sebagai ajang bergengsi. Sebabnya, ini menjadi kesempatan mereka untuk menjual diri dan dibeli klub Eropa yang berarti menjadi kaya. Sebaliknya klub-klub Eropa kurang bersemangat karena pertandingan sering berjalan keras. Keributan berulang kali terjadi. Contohnya, duel panas Estudiantes ( Argentina ) kontra AC Milan ( Italia ) pada tahun 1969 menghasilkan hukuman berat untuk beberapa pemain Estudiantes. Karena ingin melindungi pemainnya dan juga karena kurangnya dorongan hadiah financial, beberapa kali juara Piala Champion menolak tampil. Posisi mereka diganti tim runner-up. Bahkan pada edisi 1975 dan 1978, Piala Interkontinental sama sekali tak dimainkan.

Saat kontinuitas Piala Interkontinental terancam, datang proposal dari federasi sepakbola Jepang dan perusahaan otomotif asal Negeri Matahari Terbit, Toyota. Jepang mengajukan diri sebagai tuan rumah duel antar juara Eropa dan Amerika Selatan yang hanya dimainkan sekali. Sejak 1980, kejuaraan ini bernama Toyota European/South American Cup dan dimainkan di Stadion Nasional Tokyo. Hadiah mobil keluaran Toyota untuk pemain terbaik menjadi salah satu daya tarik ajang ini.

Piala Toyota bertahan sampai tahun 2004 setelah badan sepakbola dunia memutuskan untuk menggantinya dengan FIFA Club World Cup sejak 2005. Dalam 25 kali penyelenggaraan Piala Toyota, Eropa lebih baik, wakil Benua Biru 13 kali menjadi juara. Porto ( Portugal ) menjadi penentu kehebatan Eropa setelah mengalahkan Once Caldas ( Kolombia ) lewat adu penalty diedisi terakhir kejuaraan pada tahun 2004. Namun, jika dihitung total sejak tahun 1960, Amerika Selatan lebih baik. Wakil Conmebol 22 kali juara, sedangkan utusan UEFA mengumpulkan 21 gelar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Data-Fakta Piala Interkontinental

Distribusi Juara Berdasarkan Klub

 

No Klub Negara Tahun
1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

Boca Juniors

Nacional

Penarol

AC Milan

Real Madrid

Sao Paolo

Santos

Internazionale

Independiente

Ajax

Juventus

Bayern Muenchen

Porto

Racing Club

Estudiantes

Feyenoord

Atletico Madrid

Olimpia

Flamengo

Manchester United

Gremio

River Plate

Crvena Zvezda

Velez Sarsfield

Borussia Dortmund

Argentina

Uruguay

Uruguay

Italia

Spanyol

Brasil

Brasil

Italia

Argentina

Belanda

Italia

Jerman

Portugal

Argentina

Argentina

Belanda

Spanyol

Paraguay

Brasil

Inggris

Brasil

Argentina

Yugoslavia

Argentina

Jerman

1977, 2000, 2003

1971, 1980, 1988

1961, 1966, 1982

1969, 1989, 1990

1960, 1998, 2002

1992, 1993

1962, 1963

1964, 1965

1973, 1984

1972, 1995

1985, 1996

1976, 2001

1987, 2004

1967

1968

1970

1974

1979

1981

1999

1983

1986

1991

1994

1997

 

 

Parade Derby Terpanas di Dunia

Parade 20 Derby Panas di Dunia

 

LAZIO vs ROMA ( Italia )

Perbedaan pandangan politik dan kelas sosial dari para pendukung jadi kunci permusuhan dua klub asal kota Roma, Italy ini. Laziale adalah pendukung garis politik sayap kanan, sedangkan Roma lebih berorientasi kekiri-kirian. Giallorossi menjadi juara Serie A tiga kali ( 1942, 1983 dan 2001 ), sedangkan Lazio dua kali ( 1974 dan 2000 ). Kesuksesan Lazio di 1999/2000 itulah yang melecut Roma untuk menapaktilasi di semusim berikutnya.

 

 

GENOA vs SAMPDORIA ( Italia )

Derby della Lanterna ini tetap panas meski di gelar di stadion yang dipakai bersama, Luigi Ferraris. Sebutan derby della lanterna mengacu pada lentera di mercusuar terkenal di kota Genoa, Italy. Sejak Sampdoria terbentuk di 1946, sudah terjadi 78 kali duel di antara keduanya. Hasilnya cukup berimbang ( Sampdoria menang 29, imbang 32 dan Genoa unggul 17 ). Fanatisme yang merebak di duel ini membuat persaingan Torino vs Juventus terlihat kecil.

 

 

AC MILAN vs INTERNAZIONALE ( Italia )

Laga bertajuk derby della Madonnina ini berawal dari ketidaksetujuan mayoritas orang-orang Milano bahwa AC Milan, yang didirikan imigran Inggris di 1899, hanya boleh dimasuki pemain Inggris. Itulah sebabnya rival I Rossoneri yang muncul kemudian adalah “Internazionale”, yang lebih berbau kosmopolitan. Kini Milan banyak didukung kelas pekerja di Italia, sedangkan Inter jadi klub favorit golongan politik sayap kanan.

 

 

 

ARSENAL vs TOTTENHAM ( Inggris )

Derby London Utara ini memanas karena dekatnya lokasi basis pendukung Arsenal dengan supporter Tottenham. Mulai era 1970-an hingga sekarang, terjadi beberapa pertemuan di sejumlah laga penentu, seperti semifinal di final cup competitions, serta pertandingan yang menjadi kunci untuk memenangi gelar liga. Gunners belakangan lebih dominan di liga, namun sempat kalah memalukan 1-5 di leg kedua semifinal Piala Liga 2007/2008.

 

 

 

ASTON VILLA vs BIRMINGHAM ( Inggris )

Second City derby ini selalu di tandai gairah menggebu karena sejak 1879 kedua klub selalu tampil eksepsional bila saling berjumpa, tanpa memperdulikan kondisi terkini di Liga maupun cup competitions. Ketika Birmingham promosi ke Premiere League di 2002, pers pun langsung mengantisipasi derby dahsyat ini lantaran mereka sudah 20 tahun tidak bertemu dalam satu jenjang liga yang sama

EVERTON vs LIVERPOOL ( Inggris )

Meski Merseyside derby ini sering dipanaskan dengan penyajian fakta statistik dan kejadian panas di lapangan oleh media Inggris, kenyataannya laga Everton melawan Liverpool tetap disebut sebagai the friendly derby. Ini terkait dengan fakta mengaburnya batas pendukung kedua klub dalam dua dekade terakhir. Dalam sebuah keluarga di kota Liverpool, kini tak lagi diharamkan beberapa pendukung The Reds dan The Toffees secara bersamaan.

 

 

FENERBAHCE vs GALATASARAY ( Turki )

Selat Bosphorus membagi dua Istanbul. Galatasaray yang didirikan para pelajar ada disisi kota yang menjadi bagian Eropa, sedangkan Fenerbahce yang ada disisi Asia, adalah klub bentukan para buruh pekerja kasar. Dulu Galatasaray didukung orang-orang kaya, sedangkan Fener dianggap mewakili kelas menengah. Meski kelas social kedua pendukung relatif sama, persaingan antar wilayah membuat mereka tetap bermusuhan.

 

 

BESIKTAS vs FENERBAHCE ( Turki )

Setelah Fenerbahce vs Galatasaray, derby ini terhitung terpanas di Turki dan di dunia karena melibatkan dua pendukung yang sama-sama keras dan fanatik. Sama seperti Galatasaray, Fenerbahce pun lebih merasa menjadi bagian Asia ketimbang Eropa. Kedua kelompok pendukung mengklaim klubnya sebagai yang terkuat di Turki. Patokannya karena Besiktas unggul di cup competition, sementara Fener dominan di liga domestik.

 

 

 

CELTIC vs RANGERS ( Skotlandia )

The Old Firm derby adalah perseteruan dua klub sekota tertua sejak 1888, perebutan gelar di Liga Skotlandia nyaris hanya menyangkut ke dua klub asal Glasgow ini. Meski amat beraroma rivalitas antara penganut Katholik dan Protestan, faktor geo-politik juga turut berperan dalam persaingan mereka. Banyak pendukung Celtic yang pro ke kubu Irlandia Utara ketimbang pada Skotlandia. Parlemen pun terus melibatkan diri untuk ikut mendamaikan.

 

 

 

OLYMPIAKOS vs PANATHINAIKOS ( Yunani )

Olympiakos Piraeus semula adalah perlambang kaum buruh, sedangkan Panathinaikos dianggap milik golongan pemilik modal di Athena. Isu ini sejak era 1980-an berubah menjadi persaingan kelompok politik yang saling berseberangan. Pada era 2000-an Olympiakos lebih berprestasi ( 8 kali juara ), sedangkan Panathinaikos sekali ( 2004 ). Media menyebut permusuhan abadi keduanya tidak mereda meski situasi politik aman.

 

 

 

BENFICA vs SPORTING ( Portugal )

O Classico ini berjalan seru karena melibatkan dua klub besar di ibu kota, Lisabon. Jumlah penonton derby ini sering melampaui pemirsa laga timnas Portugal karena tidak hanya mengundang kedatangan warga Lisabon. Jumlah trofi keduanya membuktikan sejarah hebat mereka berdua, namun Benfica pantas berbangga lantaran pernah dua kali menjuarai Eropa ( 1961 dan 1962 ), sedangkan Sporting hanya sebatas juara Piala Winner ( 1964 ).

 

 

RED STAR vs PARTIZAN ( Serbia )

Red Star versus Partizan di kota Belgrade punya tajuk Veciti derbi, yang punya konotasi permusuhan kaum sipil dan militer. Hal ini wajar mencuat mengingat latar belakang pembentukan FK Partizan, yang semula adalah tim sepak bola tentara Yugoslavia di 1945, sedangkan pendirian rivalnya di tahun yang sama disponsori rakyat biasa yang bersikap anti perang. Persaingan domestik keduanya amat rapat, tapi Red Star ( Crvena Zvezda ) pernah juara Eropa di 1991.

 

 

DINAMO vs STEAUA ( Rumania )

Dalam bahasa Rumania disebut “Marele Derby” alias derby Agung. Pada era komunis yang berakhir di 1989, FC Steaua didukung kementrian pertahanan, sedangkan Dinamo disokong lembaga kepolisian. Jelas bukan, kenapa rivalitas keduanya sangat tajam? Hal yang membuat fans Dinamo cemburu adalah fakta bahwa keluarga ditaktor Ceausescu juga mendukung Steaua hingga klub itu menjadi juara Eropa di 1986 dan Piala Super setahun berikutnya.

 

 

SEVILLA vs BETIS ( Spanyol )

Derby di kota Sevilla ini diakui pers Spanyol jauh lebih ketat dan panas ketimbang derby di Madrid maupun Barcelona. Semula Betis tidak dikenal, namun di 1909 sebagian manajemen Sevilla tidak lagi sejalan dengan kebijakan klub sehingga membentuk klub baru, yaitu gabungan Betis dengan Sevilla Balompie. Sejak pertama kali bertemu di 1915, keributan berdarah anta pendukung selalu terjadi karena sentimen primordial antar etnis di kota Sevilla.

 

 

SAO PAOLO vs PALMEIRAS ( Brazilia )

Pertarungan keduanya di kenal bernama Choque Rei karena bernafaskan sejarah kelam di masa lalu. Palmeiras semula bernama Palestra Italia berganti nama karena di era 1940-an pemerintah diktator Brazil sangat anti hal-hal berbau asing. Perubahan ini membuat moral pemain jatuh menjelang final kejuaraan region Paulista melawan Sao Paolo. Tuduhan konspirasi pada kubu Sao Paolo sejak saat itu membuat mereka terus bermusuhan.

 

 

PALMEIRAS vs CORINTHIANS ( Brazilia )

Palmeiras adalah bentukan para imigran asal Italia yang terinspirasi kunjungan Torino dan Pro Vercelli ke Sao Paolo di 1914. Ini di anggap sebagai sebuah pembangkangan karena sebelumnya warga Italia itu sudah menjadi anggota klub lokal, Corinthians. Setiap kali keduanya bertemu, proses pengkhianatan ini terus diangkat ke permukaan sehingga membuat pertandingan berjalan panas. Mereka baru sama-sama menjuarai liga sebanyak empat kali.

 

 

 

BOCA JUNIORS vs RIVER PLATE ( Argentina )

Laga ini disebut el superclasico lantaran memang persaingan antar tetangga dekat. Stadion keduanya hanya terpaut tujuh kilometer. Kebencian antar pendukung kental terkait dengan perbedaan antar kelas sosial dan masalah keuangan, meski mereka sama-sama berasal dari distrik kumuh yang dipadati kaum miskin. Boca menjuarai Liga Argentina 20 kali, sedangkan River 27 kali, tak pernah ada usaha perdamaian antara mereka.

 

 

INDEPENDIENTE vs RACING ( Argentina )

Independiente dijuluki El Rey de Copas karena mengoleksi 15 trofi Internasional, termasuk 7 Copa Libertadores. Racing disebut La Academia lantaran jadi pabrik penghasil pemain bagus ( pernah satu kali menjuarai Copa Libertadores ). Reputasi mentereng keduanya membuat pertemuan dua klub asal Avellaneda ini sangat ditunggu publik Argentina. Tidak jarang saat Independiente di atas angina mereka justru kalah dari Racing.

 

 

PENAROL vs NACIONAL ( Uruguay )

Rivalitas ke dua klub Montevideo ini menjadi menarik lantaran mereka adalah klub paling di hormati di Uruguay. Secara bersama-sama, mereka telah menjuarai 85 akli liga domestic dan 8 Copa Libertadores. Penarol terakhir kali menjuarai ajang internasional ketika membawa pulang Piala Interkontinental dari Tokyo pada 1982. Meski bersaing ketat, pertukaran pemain di antara kedua kubu begitu sering terjadi tanpa banyak dipersoalkan oleh pendukung.

 

 

AL AHLY vs ZAMALEK ( Mesir )

Al Ahly dan Zamalek bukan sekedar klub terkuat di Mesir, tapi juga dua klub yang paling disegani di Afrika. Al Ahly meraih status sebagai klub Afrika terbaik abad ini di tahun 2000 lalu. Saking kencangnya persaingan di Kairo, pemerintah Mesir sering terlibat untuk mendatangkan wasit asing yang jelas-jelas netral untuk memimpin Cairo-African derby ini. Banyak pebisnis lokal yang ogah menyatakan keberpihakannya demi menjaga kelancaran usaha di Mesir.

 

( WH – Bola : Jum`at, 26 September 2008 )

 

Asal -Usul Derby

Asal–Usul Derby

Tradisi hingga Perang Agama

 

Di beberapa negara pengertian local derby adalah pertandingan antara dua kubu yang menjadi rival sekota. Amerika Serikat mengenalnya dengan sebutan cross-town rivalry, yang artinya rivalitas antara dua tim di dalam satu kota.

Tapi, tahukah asal muasal munculnya kata derby?. Ada sejumlah teori tentang hal ini. Sebuah kota di Inggris, Ashbourne, Derbyshire, mengklaim bahwa pertandingan tahunan antara dua penduduk berseberangan di kota itu menginisiasi kata derby.

Namun, ada juga teori yang mengatakan bahwa derby berasal dari ajang pacuan kuda ( si kuda harus berusia minimal tiga tahun ) The Derby di Inggris. Sang penemu dan penggagas perlombaan pada tahun 1780 itu adalah Earl of Derby ke-12.

Teori lain lagi mengungkapkan asal kata derby memang muncul dari kota Derbyshire. Hanya, kata itu hadir melalui pertempuran The Traditional Shrovetide Football Match antara dua sisi kota yang berseberangan. Kota ini terbelah dua, dengan satu tim mengusung Nuns Mill di utara sebagai gawang, sedangkan satu tim lagi memakai Gallows Balk di selatan.

Meski konon sekitar 1.000 pemain untuk satu tim, gol jarang terjadi karena duel sengit banyak mengambil tempat di tengah Sungai Derwent atau daerah Markeaton. Ajang ini menjadi sangat fenomenal karena hampir selalu memakan korban jiwa karena perkelahian secara kontinu.

Entah dari mana asal sesungguhnya, tapi yang jelas pengertian dari kata derby itu sendiri telah meluas ke segala arah. Tolok ukur tak Cuma berdasarkan kedekatan lokasi, melainkan sudah terdogma pada rivalitas akibat percikan korek yang semakin membesar menjadi kobaran api.

Para pendukung biasanya mengusung api permusuhan terbesar. Apalagi jika sudah melibatkan barisan suporter ultras. Kendati begitu, di atas lapangan pemain juga kerap mempertunjukkan rasa saling benci. Di luar itu semua, tensi di beberapa derby terimbas dari urusan politik dan sectarian alias agama.

Seperti yang terjadi dengan rivalitas abadi Skotlandia bertajuk old firm derby antara dua klub Glasgow, Ranger dan Celtic. Pertemuan rutin empat kali dalam setahun di Liga Premiere Skotlandia dilatarbelakangi perbedaan religi, politik serta kebijakan sosial.

Jika diambil rataan, setiap tahun ada satu korban tewas di Glasgow. Polisi mensinyalir data ini ada kaitannya dengan old firm derby. Terlepas dari permusuhan ini, sisi positifnya, Ranger dan Celtic menjadi dua klub tersukses dengan koleksi gelar terbanyak. ( WH. – Bola : Jum`at, 26 September 2008 )