Konsep Dasar Kepemimpinan

KONSEP DASAR KEPEMIMPINAN

Release by : Koplak WH

Salah satu paradigma yang di kemukakan oleh para pakar bahwa “perubahan besar dalam kehidupan manusia hanya terjadi apabila dilakukan pembongkaran secara mendasar pola pikir yang dianut oleh manusia dalam setiap kurun waktu atau era tertentu”. Sehingga secara garis besar dapat dikatakan bahwa pola pikir atau paradigma yang dipakai oleh seorang, sekelompok orang atau masyarakat sangat menentukan dinamika dan tata pola hidup dari pribadi maupun kelompok atau organisasi yang bersangkutan.

Abad 21 adalah satu era dimana globalisasi semakin mewarnai tata budaya, tata ekonomi, tata hukum, maupun tata politik dari setiap negara maupun bangsa. Persaingan yang bersifat regional dan global semakin kuat. Dalam situasi yang penuh dengan persaingan, diperlukan profil kepemimpinan abad 21 yang mencerminkan nilai-nilai atau karakteristik seorang pemimpin dalam alam pembaharuan yang dituntut untuk melaksanakan tugasnya secara efisien dan efektif sesuai dengan norma-norma. Tetapi yang lebih utama adalah bagaimana mengusahakan secara sadar agar segala sesuatu yang dilakukan oleh organisasi adalah sesuatu yang benar dan tepat sesuai dengan gelombang pembaharuan serta tantangan masa depan yang mempengaruhi organisasi.

Komitmen atau rasa tanggung jawab merupakan sikap bathin, janji seorang pemimpin untuk mewujudkan tugas dan perannya sebagai seorang pemimpin ke dalam perilaku yang dirumuskan dengan tiga buah frasa mutiara : “Rumangsa Handarbeni, Melu Hangrungkebi dan Mulat Sarira Hangsara Wani”.

Rumangsa Handarbeni. Kata Rumangsa berarti merasakan, menyadari. Handarbeni artinya memiliki. Secara harafiah berarti, ikut merasakan sebagai miliknya. Dalam arti simbolis kata-kata tersebut bermakna terhadap tugas, tanggung jawab seorang pemimpin yang harus menyadari bahwa tugas-tugas tersebut harus dirasakan, disadari sebagai miliknya. Apabila sesuatu atau tugas tersebut diterima dan dianggap sebagai miliknya, diharapkan dapat mendorong “melaksanakan tugas” tersebut secara tanggung jawab dan tidak setengah hati.

Melu Hangrungkebi. Melu berarti ikut, sedang Hangrungkebi berarti melindungi, siap berkorban untuk membela. Secara harafiah berarti, siap berkorban untuk membela, melindungi atau mengamankan. Secara simbolis menggambarkan, menjadi seorang pemimpin harus selalu siap untuk berkorban dalam melaksanakan tugas-tugas kepemimpinannya dengan segala tantangan atau resikonya.

Mulat Sarira Hangrasa Wani. Mulat berarti melihat diri sendiri. Sarira berarti badan, tubuh. Hangrasa berarti merasa sedang Wani artinya adalah berani. Untuk memahami arti kata-kata tersebut, harus dibaca dari belakang, yaitu : berani merasa, melihat diri sendiri. Makna yang terkandung didalam kata-kata tersebut adalah seorang pemimpin harus bersedia secara terbuka untuk melihat kesalahan yang terjadi dalam dirinya.

Ketiga frasa atau komitmen tersebut walaupun masing-masing memiliki arti atau makna yang berbeda, tetapi sebagai satu ajaran atau keyakinan merupakan satu rang kaian kasatuan yang harus dilaksanakan secara terpadu, tidak boleh terpotong-potong. Artinya apabila seorang pemimpin ingin berhasil dalam melaksanakan fungsi/tugas kepemimpinannya harus berpedoman pada tiga hal tersebut.

Merupakan salah satu faham kepemimpinan yang berpandangan bahwa hubungan antara pemimpin dengan yang dipimpin dilukiskan sebagai hubungan antara orang tua dengan anak. Faham ini didasarkan pada satu konsep pemikiran dasar agar dalam kehidupan satu organisasi bawahan selalu menunjukkan sikap loyal, hormat dan setia kepada pemimpin. Sebaliknya seorang pemimpin tampil menjadi panutan didalam pola pikir, sikap dan perilakunya selalu memberikan bimbingan, petunjuk dan tidak semena-mena kepada bawahan. Analog seperti suasana interaksi antara orang tua dan anaknya dalam satu keluarga rumah tangga.

Dalam berbagai kesempatan seringkali ditemukan bahwa faham kepemimpinan yang dilukiskan sebagai hubungan antara orang tua dengan anak telah mengalami pergeseran makna, antara lain dapat dilihat kejadian-kejadian nyata dalam masyarakat atau organisasi :

1.      Pemimpin mempunyai peranan sentral yang harus dihormati, dipatuhi. Pemimpin adalah segala-galanya.

2.      Pemusatan kekuasaan pada seorang pemimpin menyebabkan munculnya perilaku :

a)      Otoriter : Pemusatan kekuasaan disatu tangan yaitu pemimpin. Akibat lebih jauh adalah pemimpin dapat berbuat sekehendaknya.

b)      Arogan : Pemimpin menganggap dirinya orang yang paling kuasa, paling menentukan.

3.      Sikap Lone Ranger, pemimpin menganggap paling benar, tidak perlu bantuan dan kerjasama dengan orang lain.

4.      Sifat Dinosaurus, pemimpin menganggap paling hebat, dan selalu berorientasi pada sikap :

a)      Suka menakut-nakuti, mengancam dan menggertak.

b)      Suka berkelahi, marah-marah.

c)      Tidak bertanggung jawab.

d)     Melarikan diri dari persoalan.

e)      Mendahulukan kepentingan sanak saudara, keluarga dan kerabat.

f)       Persekutuan atau kerjasama dalam berbagai kepentingan untuk mencari keuntungan pribadi

5.      Sikap apa yang dikatakan oleh pemimpin selalu dianggap benar, mendukung tanpa reserve.

6.      Sikap yang menonjolkan hal-hal yang seremonial, formalitas, dan dalih yang berlindung pada hal-hal yang konstitusional, bahkan muncul hal-hal yang penuh rekayasa.

7.      Terkesan ada sikap feodalisme, seakan-akan ada hubungan hirarkis yang tajam antara pemimpin dengan bawahan .

Adalah tidak jujur, apabila seorang pemimpin dalam mempelajari kepemimpinan semata-mata bersumber pada paradigma kepemimpinan hasil pengkajian dan pengembangan oleh pakar dari dunia barat, tanpa mengabaikan dan memperhatikan  nilai-nilai kepemimpinan bangsa yang justru digali dan berakar pada nilai-nilai moral, spiritual, etika, budaya, sosial dan semangat yang diwariskan  oleh nenek moyang.

Paradigma, sebagai cara melihat, memandang, memberikan makna serta bereaksi terhadap satu fenomena kehidupan secara implisit telah tertanam di dalam jiwa Bangsa Indonesia. Bertitik tolak pada pengertian dan makna pola pikir yang telah disebutkan di atas, paradigma kepemimpinan sesungguhnya bertumpu pada ciri-ciri modern, serta azas integralistik, kekeluargaan, persatuan dan kesatuan, azas selaras, serasi dan seimbang.

Dalam ajaran kepemimpinan yang lain, terdapat pula yang disebut TRILOGI KEPEMIMPINAN yaitu : “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”. Ketiganya merupakan ciri-ciri spesifik kepemimpinan di Indonesia yang membedakan secara khusus dengan ciri-ciri kepemimpinan di negara dan bangsa manapun. Masing-masing mengandung makna simbolis sebagai produk kebesaran jiwa nenek moyang para pendahulu.

1. Ing Ngarsa Sung Tuladha

Arti kata Ing adalah di, Ngarsa berarti depan, Sung dari kata asung yang berarti memberi, dan Tuladha berarti teladan.

Penampilan seorang pemimpin yang demikian :

a)      Berani menghadapi rintangan dan bekerja dalam merintis segala macam usaha.

b)      Dengan tabah dan keberanian sanggup bekerja yang paling berat.

c)      Menegakkan disiplin diri sendiri maupun para bawahan.

d)     Memberikan suri tauladan

e)      Mengabdikan diri kepada kepentingan umum dan segenap anggota organisasi.

f)       Bijaksana dalam memberikan petunjuk, nasehat dan pertimbangan-pertimbangan.

g)      Berani menjadi ujung tombak bagi setiap usaha dan perjuangan.

h)      Sebagai seorang yang berdiri paling depan, pemimpin yang demikian memiliki sifat : teguh, tanggap dan tangguh.

2. Ing Madya Mangun Karsa

Ing berarti di, Madya artinya tengah, Mangun berarti membangkitkan dan Karsa adalah kehendak.

Penampilan seorang pemimpin yangn demikian adalah :

a)      Mau terjun ditengah-tengah anak buah.

b)      Merasa senasib dan sepenanggungan.

c)      Sanggup menggugah dan membangkitkan gairah kerja, semangat juang dan etos kerja yang tinggi.

d)     Karena ditengah-tengah anak buah, pemimpin selalu tanggap dan mampu berfikir dan bertindak cepat dan tepat sesuai dengan tuntutan, kondisi dan situasi.

e)      Memiliki ketajaman perasaan

f)       Menghayati kesulitan anak buah.

g)      Bisa bersifat sabar, berlebar dada untuk menerima kelemahan dan kekurangan anak buah, tanpa mkecewa dan mengeluh.

3. Tut Wuri Handayani

Kata Tut berasal dari kata atut yang berarti ikut, Wuri artinya belakang, dan Handayani berarti memberi daya, kekuatan.

Pemimpin yang demikian mempunyai peranan memberi daya kekuatan dan daya dukung untuk memperkuat sikap langkah dan tindakan dibawahnya.

Penampilan seorang pemimpin yang demikian adalah :

a)      Selalu memberikan dorongan dan kebebasan agar bawahan mau berprakarsa, berinisiatif dan memiliki kepercayaan diri untuk berkarya dan tidak selalu bergantung pada perintah atasan (kreatif)

b)      Selalu mengikuti kegiatan dengan cermat dan teliti, waspada dan tepat waktunya, koreksi dan pengarahan apabila terjadi kesalahan dan penyimpangan.

c)      Selalu memberikan nasehat, koreksi dan petunjuk atas dasar rasa sayang dan rasa tanggung jawab yang besar akan keberhasilan usaha yang dilakukan bersama

Kepemimpinan adalah sebagai proses yang melibatkan antara pemimpin dengan mereka yang dipimpin yang akan selalu mempergunakan konsep, teori yang jelas serta berkaitan dengan disiplin ilmu yang telah dikembangkan melalui analisis, eksperimen dan hipotesa.

Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan mendorong seorang pemimpin berorientasi ke arah terciptanya kepuasan masyarakat dan kepuasan organisasi yang dipimpin. Untuk itu maka seorang pemimpin harus mampu mengendalikan proses manajemen, pembinaan dan pengembangan segala kekuatan organisasi yang ada. Lebih dari itu pemimpin wajib memandang betapa penting keberanian untuk bersedia “tanggung resiko” sebagai akibat dari usaha untuk lebih maju. Bahkan banyak yang meyakini bahwa menjadi pemimpin adalah hidup dalam alam kehidupan yang penuh resiko. Sehingga pemimpin wajib untuk berusaha mengembangkan tata nilai dan budaya kerja yang penuh dengan kesetiaan bagi semua anggotanya untuk berani mencoba dan tanggung resiko.

Disamping paradigma dan komitmen seperti diuraikan di atas, pemimpin seperti layaknya kepemimpinan pada umumnya memiliki karakter yang melukiskan ciri-ciri kepemimpinan secara umum. Juga memiliki ciri-ciri khusus, artinya memiliki jati diri berupa Trilogi Kepemimpinan yang harus dipandang sebagai satu kesatuan yang utuh yang bercirikan :

1. Iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

2. Waspada Purba Wisesa

3. Ambeg Paramarta

4. Prasaja

5. Satya

6. Geminastiti

7. Blaka

8. Legawa

9. Kesatria

Arti atau makna masing-masing ciri tersebut adalah :

1. Iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

a)      Nilai yang terkandung dalam ciri ini adalah bahwa seorang pemimpin dituntut memiliki keyakinan beragama yaitu keimanan dan ketaqwaan yang teguh terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

b)      Keyakinan pada butir a) mengandung arti : setiap unsur manusia mempunyai kedudukan yang sama tinggi dihadapan Tuhan.

c)      Timbul kesadaran pada diri seorang pemimpin, bahwa dirinya bukan seorang yang maha super, bukan sumber kewenangan yang mutlak dalam menentukan permasalahan bawahan.

d)     Seseorang tidak merasa lebih tinggi terhadap orang lain, sehingga memiliki perasaan kasih sayang terhadap sesama dan semangat persaudaraan.

e)      Membuat bawahan untuk selalu berbuat adil, benar, jujur, sabar, tekun dan rendah diri.

f)       Membuat bawahan jadi selalu tenang, bersih serta selalu ingat dan sadar.

2. Waspada Purba Wisesa

Arti kata Waspada adalah mempunyai ketajaman penglihatan dan mampu menembus penglihatan kedepan (visi), mampu menciptakan atau mampu mengendalikan atau menguasai. Sedang arti kata Wisesa adalah keunggulan, kelebihan kekuatan berdasarkan kewibawaan atau kewibawaan yang disertai kekuatan. Jadi Purba Wisesa adalah mampu menciptakan dan mengendalikan semua kelebihan, keunggulan dan kekuasaan mampu mengatur.

Purba Wisesa juga berarti mempunyai kekuasaan lebih besar serta bisa menerapkan Force Manjeure terhadap orang lain berdasarkan sifat-sifat tangguh dan kelebihan-kelebihan pemimpin. Jadi pemimpin yamg memiliki Waspada Purba Wisesa adalah seorang pemimpin yang mampu membina, mengerahkan dan menguasai orang-orang dibawahnya.

Penampilan seorang pemimpin yang demikian :

a)      Selalu menguasai persoalan yang berkembang dalam organisasi.

b)      Mampu memegang tampuk pimpinan secara bijaksana.

3. Ambeg Paramarta

Kata Ambeg artinya mempunyai sifat, sedangkan  Paramarta berasal dari bahasa sansekerta “parama arta” yang berarti yang benar, yang hakiki. Jadi Ambeg Paramarta berarti : murah, karisma, dermawan, mulia, murni, baik hati.

Kata paramarta biasanya disertai dengan kata adil, jadi ambeg adil paramarta berarti : bersikap adil, mampu membedakan yang penting dan yang tidak penting. Seorang pemimpin yang berciri ambeg paramarta penampilannya :

a)      Mampu menyusun satu sistem hirarki agar selalu dapat memeriksa, serta menata segala usaha dan perilaku.

b)      Mampu dengan tepat memilih mana yang harus didahukukan.

c)      Selalu bersikap adil, memberikan kebahagiaan dan kesegaran serta kenyamanan hidup kepada semua bawahan.

d)     Tidak bersikap munafik serta tidak menyimpan rahasia kepada bawahan.

e)      Suka berbuat hal-hal yang menimbulkan kesenangan dan keheningan hati.

f)       Suka memaafkan kesalahan dan kekurangan bawahan, bersikap sabar, maklum dan mudah memberi serta belas kasih.

g)      Selalu penuh tepa selira, mawas diri dan tenggang rasa.

h)      Segala peristiwa selalu diperhitungkan dan dipikirkan apakah merugikan bawahan atau tidak.

i)        Tidak sewenang-wenang, tidak mengabaikan bawahan dan tidak kejam terhadap sesama makhluk

4. Prasaja

Prasaja mengandung arti sederhana, toleran, terus terang, blak-blakan, tulus, ikhlas, benar dan mustakim.

Penampilan seorang pemimpin yang prasaja adalah :

a)      Bersahaja, tidak plintat-plintut, lugu, polos (tulus dan terbuka, hati terbuka tanpa bumbu-bumbu)

b)      Hidupnya tidak berlebihan, sederhana dan tidak tamak.

5. Satya

Satya berarti setia, menepati janji dan selalu memenuhi ucapannya.

Penampilan seorang pemimpin yang satya adalah :

a)      Dapat dipercaya, jujur, lurus, tulus dan serta selalu loyal terhadap organisasi.

b)      Senantiasa berusaha agar kepemimpinannya berguna dan bisa membuat bahagia bawahan.

c)      Bersungguh-sungguh (temen)

d)     Memberikan pengayoman dan tuntunan kepada bawahan, lagi pula sangat memperhatikan kesulitan dan kesejahteraan bawahannya.

e)      Bersikap loyal kepada bawahan dan sesama teman sejawat dan sederajat.

6. Geminastiti

Gemi artinya hemat dan berhati-hati, tidak boros. Nastiti berarti cermat yaitu meneliti dengan sangat hati-hati dalam segala pekerjaan.

Penampilan Geminastiti dalam kepemimpinan adalah :

a)      Mampu melaksanakan semua pekerjaan dengan sangat efektif dan efisien dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya diperoleh hasil sebesar-besarnya.

b)      Hemat dalam mengelola sumber daya manusia, materiil dan modal.

c)      Menghindari semua tingkah laku yang tidak memberi manfaat.

d)     Selalu cermat dan teliti, selalu menggunakan duga prayoga, yaitu pandai menduga-duga apakah yang paling baik pada saat itu, lalu menghindari hal-hal yang dapat mendatangkan bahaya, sadar dan mampu membatasi penggunaan serta pengeluaran segala sesuatu.

7. Blaka

Blaka berarti terbuka, komunikatif, tidak picik pandangannya, bersedia memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengemukakan usul, pendapat, kritik yang konstruktif dan kreatif.

Penampilan blaka dalam kepemimpinan adalah :

a)      Tidak malu dan mau belajar dari lingkungan dan bawahannya.

b)      Menyadari bahwa tidak ada manusia manapun yang bisa dan maha super dari segala yang ada didunia dan tidak ada yang kekal selama-lamanya.

c)      Selalu membuka diri untuk belajar dan meningkatkan diri.

d)     Bersedia menuntun, mengembangkan dan membina bawahan agar sewaktu-waktu siap menggantikan.

e)      Ikhlas dan rela mewariskan tugas kewajiban dan tanggung jawab kepada generasi penerus yang telah dipersiapkan.

f)       Ikhlas dan berani mempertanggungjawabkan semua tindakannya.

8. Legawa

Legawa berarti rela dan tahu, ikhlas serta setiap saat bersedia untuk memberikan pengorbanan.

Penampilan legawa dalam kepemimpinan adalah :

a)      Pengasih, karim dan dermawan.

b)      Tabah, tawakal, mupun atau menghibur diri, pasrah menyerah dengan hati tulus bila terjadi kekecewaan dan kegagalan. Tetapi bangkit lagi untuk membangun.

c)      Bisa menerima segala kesalahan dan kekecewaan.

d)     Menerima segala uji coba dengan tabah, apabila tidak disukai dan difitnah orang atau sesamanya tetapi terus berjuang tanpa pamrih melaksanakan tugas.

9. Kesatria

Bersifat satria, berarti berbudi pekerti luhur dan terpuji, mampu mengendalikan diri dan mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.

Penampilan kepemimpinan yang bersifat kesatria adalah :

a)      Bersifat tenang, pendiam dan tidak tergesa-gesa.

b)      Halus pekerti, namun memiliki keperkasaan dan kekuatan tetapi tidak ditonjolkan.

c)      Bersikap sopan santun, manis tegur sapanya, ramah tamah, terbuka wajahnya dan susila dalam segala tingkah laku.

d)     Penampilannya selalu apik dan menarik.

e)      Batinnya selalu prawira, artinya utama, sempurna, menguasai, memahami, berani, tangkas, perkasa, gagah dan penuh kepahlawanan.

Pola pikir yang disebut pula paradigma, komitmenkepemimpinan yang telah dibicarakan diatas pada hakekatnya merupakan dua kekuatan kepemimpinan yang strategis, karena kedua kekuatan tersebut diperlukan untuk menumbuhkan keyakinan pemimpin akan tugas dan peranan seorang pemimpin. Namun ada kekuatan lain disamping kedua kekuatan tersebut, yaitu pola perilaku yang pada hakekatnya merupakan praktek dari serangkaian nilai-nilai yang terkandung dalam paradigma dan komitmen kepemimpinan. Tanpa ada perilaku atau perbuatan, nilai pola pikir dan komitmen kepemimpinan tetap tinggal statis sebagai suatu lamunan atau mimpi indah yang menyebabkan pemimpin suatu organisasi menjadi lumpuh tak berdaya. ©©

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s